MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

Tampilkan postingan dengan label KONSULTASI TAHFIDZ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONSULTASI TAHFIDZ. Tampilkan semua postingan

Bismillah Ayat Fatihah atau Bukan?


MuntadaQuran - Bismillah Ayat Fatihah atau Bukan?

Pertayaan :

Ustadz yg saya hormati, apakah bismillah dalam fatihah sebagian dari ayat fatihah atau bukan? soalnya banyak orang yg ngga baca bismillah dalam sholat langsung alhamdulillah sebagai ayat pertama tapi jika saya liat dalam alqur’annya sendiri fatihah adalah ayat pertama dalam qur’an?

Terimakasih – Hamba Allah

Jawaban:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du

Saudaraku Hamba Allah yang saya cintai karena Allah. Permasalahan yang anda tanyakan adalah suatu masalah yang sebenarnya harus difahami oleh setiap muslim, sehingga apabila dia mendapati sang imam atau saudaranya ketika menjadi imam shalat membaca surat al-Fatihah tanpa membaca Basmalah (bismillahirrahmanirrahim)  atau tidak menjaharkan (mengeraskan suara) bacaan basmalah, maka dia tidak akan menvonis atau mengatakan sang imam beda aliran, ajaran atau bahkan yang lebih parah beda aqidah, na’udzu billah.

Para ulama fikih sejak dahulu telah berbeda pandangan dalam menyikapi hal tersebut. Apakah basmalah satu ayat tersendiri yang ditulis setiap awal surat dalam Al-Qur’an atau dia hanya ditulis di awal surat Al-Fatihah saja?

Pertama kali yang harus kita ketahui adalah bahwa para ulama telah bersepakat bahwa basmalah adalah satu ayat yang tercantum di dalam surat Al-Naml.

Para ulama qira’ah Makkah dan Kufah menegaskan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah dan juga surat lainnya.

Namun ulama Qiraah Madinah, Bashrah dan Syam, menegaskan bahwa basmalah tidak termasuk ayat, baik pada surat Al-Fatihah maupun surat-surat lainnya, mereka mengatakan bahwa basmalah ditulis untuk mendapatkan keberkahan dan sebagai pembatas antara satu surat dengan surat lainnya.

Mereka bersandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW adalah tidak mengetahui pembatas surat hingga turunlah kepadanyabismillahirrahmanirrahim.

Basmalah di baca jahar?

Telah kami sebutkan di atas, bahwa telah terjadi perbedaan pendapat antara para ulama tentang basmalah, apakah dia termasuk ayat di setiap surat atau bukan?

Sebagaimana terjadi perbedaan tersebut, terjadi pula perbedaan pendapat mereka, apakah basmalah dibaca jahr (keras) atau sir (Pelan)

Bagi mereka yang mengatakan bahwa basmalah adalah ayat di setiap surat (selain surat Al-Taubah), mereka berbeda pendapat, apakah menjaharkan basmalah atau tidak, ada dua pendapat :

Pertama : Pendapat untuk tidak dijaharkan (dibaca pelan) ketika membaca surat Al-Fatihah. Pendapat ini didukung oleh para ulama diataranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Tausri, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Imam Ahmad bin Hambal, Al-Auza’i.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Dari Abu Hurairah, bahwasanya di shalat dan menjaharkan bacaan basmalah. Setelah selesai shalat dia pun berkata : “sesungguhnya shalatku lebih mirip dengan shalat Rasulullah SAW bila dibandingkan dengan shalat kalian”. (HR. Nasa’I dalam Sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Hakim dalam  Al-Mustadrak. Di shaihkan oleh Al-Daraquthnu, Al-Baihaqi dan lainya)

2-    Dari Ibnu Abbas, adalah Rasulullah SAW menjaharkan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak, dan dia berkata : Shahih)

Kedua : Pendapat untuk menjaharkan ketika membaca Al-fatihah. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama madinah diantara Ibnu Umar, Ibnu Syihab juga di dukung oleh Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Aisyah berkata : “adalah Rasulullah SAW membuka shalatnya dengan bertakbir dan bacaan “alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” (HR. Muslim)

2-    Anas berkata : “ Aku pernah shalat (menjadi makmum) di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar,  Umar dan Utsman. Mereka memulainya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘lamin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

3-    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas berkata : “ Aku shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman. Dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillahirrahmanirrahim”.

Sebenarnya masalah ini adalah masalah ijtihadiyah bukan masalah yang qath’iyah (yang pasti kebenarannya), sebagaimana yang dikira oleh banyak orang yang tidak memiliki kedalaman masalah fikih ikhtilaf, sehingga membuat mereka sampai pada tingkat yang sangat parah sekali yaitu mengkafirkan kaum muslimin lainnya yang tidak sejalan dengan pendapat para imam madzhabnya.

Menurut hemat kami, hendaknya sebagai seorang muslim, apalagi dia seorang aktifis dakwah dan thalibul ‘ilmi, maka yang harus dikedepankan adalah sikap toleransi terhadap perbedaan yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam menjalankan ibadah yang masih bersifat furu’iyah, jangan sampai yang dikedepankan hanya ingin tampil beda dan ingin menunjukkan seakan dia lebih nyunnah dalam beribadah dan meresa lebih tahu, padahal di sana masih banyak pendapat ulama lain yang  berbeda pandangan dan memiliki dalil dan sandaran yang tidak kalah kuatnya. Kalau sikap toleransi tidak dikedepankan maka akan dapat menimbulkan keresahan dikalangan umat ini, yang tentunya ini tidak kita inginkan.

Maka hendaknya kita juga harus bersikap lebih dewasa lagi. Dan menurut kami tidak ada salahnya kalau ada  seseorang yang cenderung kepada pendapat tidak menjaharkan bacaan basmalah untuk menjaharkannya ketika dia menjadi iman shalat yang makmumnya mayoritas menjaharkan bacaan basmalah atau mungkin sebaliknya. Semoga sikap dewasa toleransi antar kaum muslimin dapat mempererat ukhuwah Islamiyah. Aamiin

Wallahu ‘alam bishshawab
 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.
** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Agar Hafalan Al-Quran Kita Tidak Cepat Hilang

MuntadaQuran Agar Hafalan Al-Quran Kita Tidak Cepat Hilang
Pertanyaan
Assalamu’alaikum wr.wb.
ustadz yang di rahmati Allah SWT…!
Saya punya target menghafal Al Quran dalam 1 bulan 1 juz, Alhamdulillah sudah berjalan 5 bulan.
Yang ingin saya tanyakan, mengapa setelah hafal 1 juz, dan saya lanjutkan dengan juz berikutnya, juz yang sudah saya hafal kok jadi hilang ?
Mohon Saran dan penjelasannya.
Jazakallahu Khoiron Katsiir
yusuf
Jawaban
Subhanallah, anda mampu menghafal Al-Quran dalam tempo sebulan 1 juz. Berarti dalam tempo tiga hari anda bisa menghafal dua halaman atau satu lebar. Ini adalah target dan capaian yang luar biasa. Artinya, kalau proses menghafal ini berjalan lancar, atas izin Allah SWT dalam tempo 30 bulan atau 2 tahun setengah anda sudah hafal Al-Quran 30 juz.
Sebenarnya menghafal Al-Quran itu sangat mudah sekali. Demikian jaminan dari Allah SWT. baca dan renungi firman-Nya :
“وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ”
“Dan sugguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar/54 : 17, 22, 32, 40)
Kalau ada masalah dengan kita dalam hal menghafal dan murajaah, tentunya jangan disalahkan ayatnya, yang harus kita lakukan adalah kita harus berintrospeksi, kenapa hafalan kita mudah sekali hilang setelah kita menghafal juz berikutnya?. Oleh karena itu dalam menghafal Al-Quran harus memiliki metode yang tepat sehingga hasilnya pun akan memuaskan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menghafal Al-Quran, semoga bisa membantu kita dalam proses menghafal Al-Quran. Diantaranya, usahakan anda selalu menggunakan mushaf Al-Huffazh (Mushaf ini biasa digunakan para penghafal Al-Quran), di mana dalam mushaf ini setiap awal halaman adalah permulaan ayat dan di setiap akhir halaman adalah akhir ayat, membacanya secara perlahan dan tenang, membagi ayat dalam beberapa maqtah’ (satu pembahasa tertentu), usahakan membaca ayat yang sudah dihafal dalam shalat, memahami makna ayat secara umum, ini akan banyak membantu kita dalam memantapkan hafalan. Usahakan ikut serta dalam halaqat tahfizh Al-Quran, baik itu di masjid, di mushalla atau di tempat yang lainnya.
Hambatan dan penghalang dalam menghafal
Ada banyak hambatan dan penghalang dalam menghafal Al-Quran, diantaranya:
Perbuatan Maksiat
Anda juga harus berusaha seoptimal mungkin untuk selalu menghindari tempat-tempat maksiat, apalagi –na’udzu billah- gemar bermaksiat dengan segala macam bentuknya.
Tentunya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah seorang Imam besar, Imam Syafi’I peletak madzhab Al-Syafi’iyyah yang memiliki kecepatan dalam menghafal, beliau pernah mengadu kepada gurunya, Waki’, karena suatu hari beliau mengalami masalah dalam menghafal. Sang guru pun lalu memberikan obat mujarab, yaitu dengan nasihat agar sang Imam meninggalkan perbuatan maksiat. Imam Syafi’I rahimahullah berkata:
Aku mengadu kepada (guruku) Waki’ atas buruknya hafalanku
Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatan
Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.
Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk menjauhi kemaksiatan, maka Allah SWT akan membukakan hatinya untuk mengingat-Nya, membimbingnya dalam mentadaburi ayat-ayat kitab-Nya, memberikan kemudahan dalam menghafal dan mempelajarinya.
Tidak mengulang secara rutin
Seorang penghafal Al-Quran harus memiliki jadwal khusus untuk mengulang hafalan, jadi dia harus memiliki wirid harian untuk murajaah hafalan yang pernah dia hafal, baik di dalam shalat atau di luar shalat. Karena diantara yang membuat hafalan Al-Quran kita cepat hilang karena kita memiliki jadwal khusus untuk murajaah.
Sejak dahalu Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada orang yang menghafal Al-Quran untuk selalu menjaga hafalan, karena Al-Quran akan lebih cepat lepas dibandingkan dengan seekor onta yang terikat kuat, jika dia tidak selalu mengulang-ulang hafalan.
Rasulullah SAW bersabda :
“تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ قُلُوْب الرِّجَالِ مِنَ اْلإِبِلِ مِنْ عُقُلِهَا”.
“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari hati penghafalnya dari pada lepasnya seekor onta dari ikatannya” (H.R. Bukhari)
Jadi pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang penghafal Al-Qur’an dalam memelihara hafalannya. Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an. Biasakan jangan melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Berlebihan dalam memandang dunia
Tidak sedikit orang yang menghafal Al-Quran karena lebih disibuki dengan kegiatan yang dapat melalaikannya dari aktifitas menghafal bahkan mengajar Al-Quran, bahkan juga tidak sedikit orang yang sedang mulai menghafal Al-Quran sangat bersemangat sekali ikut suatu bisnis tertentu yang sangat ‘menjanjikan’, lalu tanpa mereka sadari, sedikit banyak melalaikan dari kegiatan menghafal yang selama ini dia lakukan secara rutin.
Sebenarnya ada banyak cara dalam menghindari lupa akan hafalan yang pernah melekat dalam memori kita seperti motivasi atau niat kita dalam menghafal Al-Quran adalah bukan untuk mengejar-ngejar kenikmatan dunia. Kemudian kita juga harus banyak berdoa kepada Allah SWT agar kita diberikan kemudahan dalam menghafal kalam-Nya. Biasakan hati kita selalu mengigat Allah SWT (berdzikir) dalam setiap keadaan, dengan banyak mengingat Allah SWT maka kita akan merasa selalu diawasi oleh-Nya sehingga kita pun malu apabila Dia mendapi kita sedang berada dalam lembah kemaksiatan. Dan tentunya kita semua ingin dan terus berusaha menjaga agar kualitas hafalan yang ada seperti kualitas hafalan surat al-Fatihah, atau minimal seperti orang yang membaca surat yasin dan al-kahfi, karena sering dibaca jadi tidak mudah hilang.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kapada anda dan kepada kita semua dalam menghafal Al-Quran serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bishshawab.
 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.
** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.