MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

MUNTADA AHLIL QURAN

Komunitas Penghafal Al-Qur'an

Kirim pahala tilawah Quran ke orang tua yang sudah wafat, bolehkah?

MuntadaQuran - Kirim pahala tilawah Quran ke orang tua yang sudah wafat, bolehkah?

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb, ustadz saya mau bertanya, bila kita telah membaca al qur’an lalu kita berdoa kepada Allah Swt agar pahala dari bacaan saya agar mengalir juga kepada orang tua kita yang sudah wafat, dibolehkan atau tidak mohon penjelasannya, trmksh.

Jawaban:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudara penanya yang dirahmati Allah SWT, memang tidak didapati dalil secara sharih (Eksplisit) baik dari Al-Quran mau pun dari sunnah Rasulullah SAW yang membolehkan ataupun melarang seseorang menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran kepada orang yang sudah meninggal. khususnya untuk kedua orang tua kita yang sudah wafat.
Namun sebelum masuk pada jawaban, baiknya kita ketahui terlebih dahulu pejelasan berikut:
Pertama: Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa mempersembahkan pahala sedekah akan sampai kepada si mayit dan bermanfaat untuknya. Ibnu Katsir berkata: “Adapun doa dan sedekah adalah sebagai kesepakatan (Ijma’) para ulama bahwa pahalanya sampai kepada si mayit dan ini ada landasan syar’inya”. Ini berdasarkan hadits:
“إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له”.
“Jika anak Adam mati maka amalnya terputus kecuali tigal hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih”. (HR. Muslim). Ketiga hal tersebut adalah merupakan usaha, jeri payah dan amalnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:
“إن أطيب ما أكل الرجل من كسبه وإن ولده من كسبه”.
“Sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya dan sesungguhnya anaknya merupakan bagian dari usahanya”. (HR. Nasa’I dan Abu Daud)
Kedua: Para ulama berbeda pandangan dalam hal menghadiahkan pahala membaca Al-Quran untuk si mayit, apakah boleh, sampai kepada si mayit dan bermanfaat baginya?
Secara umum paling tidak ada dua pendapat yang berbeda dalam menyikapi kasus yang anda tanyakan.
Pendapat pertama mengingkarinya dan mengatakan tidak boleh menghadiahkan pahala membaca Al-Quran kepada orang sudah meninggal karena ini merupakan suatu yang tidak bermanfaat sama sekali bagi si mayit dan pahalanya tidak sampai kepadanya.
Diantara dalil mereka:
  1. Firman Allah SWT:
“وأن ليس للإنسان إلا ما سعى”.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm: 39) Maksud dari ayat ini adalah bahwa bacaan untuk si mayit bukan bagian dari amal dan usahanya, karena Rasulullah SW tidak menganjurkan umatnya untuk melakukannya.
  1. Firman Allah SWT:
“لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسألون عما كانوا يعملون”.
“Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqarah: 134)
  1. Hadits Rasulullah SAW:
“إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له”.
“Jika anak Adam mati maka amalnya terputus kecuali tigal hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih”. (HR. Muslim).
Hadits ini menerangkan putusnya amal bagi orang yang sudah mati kecuali tiga hal yang disebutkan di hadits ini dan menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran tidak termasuk di dalamnya.
Pendapat kedua mengatakan bahwa ini merupakan susuatu yang dibolehkan dan dapat bermanfaat bagi si mayit dan pahalanya akan sampai kepadanya.
Diantara dalil mereka:
  1. Firman Allah SWT:
“والذين ءامنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم ومآ ألتناهم من عملهم من شيء”.
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucuk mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucuk mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka…”. (QS. At-Thur: 21).
Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukan bahwa Allah SWT akan menghubungkan anak orang mukmin dengan ayah mereka yang mukmin pula dan ini sebagai dalil bahwa manusia bisa mengambil manfaat dari usaha atau amal orang lain.
  1. Hadits Rasulullah SAW:
“إن الميت ليعذب ببكاء الحي”.
“Sesungguhnya mayit pasti akan mendapatkan azab disebabkan tangisan (keluarganya) yang masih hidup”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Mereka mengatakan juga bahwa tangisan ini dapat memberikan mudharat kepada si mayit maka bacaan Quran pun akan dapat memberikan manfaat, dan Allah Maha Mulia dari sekedar menyampaikan hukuman perbuatan maksiat kepadanya (mayit) dan menghalangi pahala baginya.
Pendapat kedua ini juga mengatakan: “Tidak ada larangan menghadiahkan pahala membaca Al-Quran dan pahala amal shalih lainnya”. Mereka mengqiyaskan hal tersebut dengan sedekah dan doa untuk orang yang sudah meninggal dunia.
Ibnu Shalah rahimahullah suatu hari pernah ditanya: “Apakah diperbolehkan seseorang membaca Al-Quran  dan dia hadiahkan (pahalanya) untuk kedua orang tauanya dan kerabatnya secara khusus dan bagi kaum muslimin secara umum…?”.
Beliau menjawab : “Ada perbendaan pendapat di kalangan ahli fiqih tentang membaca Al-Quran tersebut, dan mayoritas membolehkannya. Dan hendaknya dia mengucapkan “Ya Allah sampaikan pahala yang aku baca ini untuk si fulan”. Dan barang siapa yang menginginkannya bisa dia jadikan sebagai doa…”.
Imam Nawawi rahimahullah juga pernah ditanya: “Apakah pahala sedekah, doa atau bacaan Al-Quran akan sampai ke mayit?”.
Beliau menjawab: “Pahala doa dan pahala sedekah akan sampai kepadanya sesuai dengan ijma’ ulama. Dan ada perbedaan ulama dalam hal pahala bacaan Al-Quran, Imam Ahmad dan beberapa sahabat Imam sayafi’i berkata: “Sampai”. Imam Syafi’i dan kebanyak (pengikut Imam Syafi’i) : “Tidak sampai”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah pernah ditanya: “Jika seseorang membaca ayat Al-Quran dan menghadiahkannya kepada orang sudah meninggal apakah sampai atau tidak? Apakah si mayit mendengar atau tidak?”.
Beliau menjawab: “Perbedaan dalam hal ini sudah masyhur (terkenal). Namun yang lebih utama adalah si pembaca berdoa “Ya Allah jika Engkau menerima amal saya dalam membaca Al-Quran ini maka jadikan pahala dari-Mu ini untuk si fulan. Dan jika dia berdoa “jadikan pahalanya untuk si fulan” maka ini yang menjadi perbedaan pendapat. Perkataan pertama sebagai doa jika Allah berkehendak Dia akan menerimanya dan jika Dia berkehendak dia tidak menerimanya, dan jika pahalanya sampai ke mayit pasti akan bermanfaat”.
Jadi masalah ini memang sudah menjadi pembahasan para ulama sejak lama, kita bisa mengambil dan mengikuti pendapat yang kita yakini benar. Dan yang terpenting adalah Al-Quran jangan hanya kita jadikan sebagai pengirim hadiah pahala namun mari kita pelajari, baca, tadabburi dan amalkan.  Selanjutnya jangan sampai ketika kita berbeda dalam hal yang masih menjadi perbedaan pendapat ini membuat hubungan sebagai sesama Muslim menjadi renggang dan silaturrahim serta ukhuwah jadi terputus. Justeru saatnya kita bisa bersikap lebih dewasa dan juga kita bisa menghormati saudara kita yang lain yang tidak sependapat dengan kita.  Allahu a’lam bishshawab
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
th kecil
Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.
** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat

Nikmatnya Tilawah Al-Quran Sepanjang Masa (Video Profil Muntada)

MuntadaQuran - Nikmatnya Tilawah Al-Quran Sepanjang Masa (Video Profil Muntada)


Saya ingin menjadi Hafizhah, bagaimana caranya?

MuntadaQuran - Saya ingin menjadi Hafizhah, bagaimana caranya?

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Wr.Wb, Ustadz taufik yang saya hormati, saya akhwat berusia 26 tahun, apakah untuk usia saya ini terlambat untuk menjadi hafidzhah? bagaimana agar saya dapat menghapal dengan mudah dan lancar karena saya punya kekurangan dalam memori saya, selain itu kesibukan saya cukup padat dalam pekerjaan dan aktifitas pembinaan. terimakasih sebelumnya ustadz.

Wassalam.

nira mirawana

jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya doakan semoga Ibu diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam meraih harapan mulia, yaitu ingin menjadi seorang Hafizhah, penghafal Al-Quran. Allah SWT menjamin kelestarian Al-Quran hingga akhir zaman, Dialah yang menjaga Al-Quran sebagaimana Dia pula yang menurunkannya sebagai pedoman hidup hamba-hamba-Nya. Namun, Allah juga memilih orang-orang khusus sebagai “khalifah”-Nya dalam menjaga kemurnian dan kemuliaan Kalam-Nya, yakni para penghafal Al-Quran (Huffazh).
Penghafal Al-Quran merupakan orang-orang terpilih di antara hamba-hamba Allah SWT. Mereka ibarat pasukan elite dan khas, sebagai “pasukan khusus pengawal Al-Quran”, dan tentu saja dengan imbalan kemuliaan, keberkahan, atau pahala yang “elite” dan “khas” pula.
Allah menjamin tidak akan ada yang mampu memalsukan Al-Quran, bahkan satu ayat pun, sebagaimana tidak akan ada manusia dan jin yang mampu membuatnya.  Jaminan Allah itu diberikan karena akan selalu hadir para penghafal Al-Quran dari zaman ke zaman. Kesalahan sedikit pun, disengaja ataupun tidak disengaja, akan langsung diketahui dan dikoreksi.

Apakah kita tertarik menjadi anggota “pasukan khusus pengawal Quran” itu? Jika ya, silahkan baca buku saya Jurus Jitu Menghafal Al-Quran yang  terbit bulan awal Juli 2009 lalu, insya Allah akan membantu siapapun yang memiliki tekad kuat untuk menghafal Al-Quran.

Dalam buku ini diceritakan, Ada beberapa kisa orang yang memiliki kesibukkan dan umurnya sudah cukup lanjut, namun mampu menghafal Al-Quran 30 juz.

Dalam buku ini juga ditegaskan, menghafal Al-Quran itu mudah, tidak susah. Allah SWT sendiri yang menegaskannya, berkali-kali. Jadi, siapa pun, dalam usia berapa pun, dapat dengan mudah menjadi seorang penghafal Al-Quran (Hafizh), asalkan mampu memenuhi syarat dan menjalani proses, tahapan demi tahapan, sebagaimana secara gamblang dikupas dalam buku tersebut. Sehingga ia sangat layak untuk dibaca, dipelajari dan menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin menghafal Al-Qur’an. Bagi orang tua, buku ini sangat tepat sebagai pegangan dalam membimbing anak-anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran sejak usia dini, bagi seorang guru, buku ini bisa menjadi rujukan penting dalam mengajarkan anak-anak didiknya untuk bisa menghafal Al-Quran.

Semoga usaha kita dalam mengahfal Al-Quran akan menjadi pemberat timbangan amal kita di hari yang tidak adalagi manfaat harta dan anak kecuali bagi orang yang medatangi Allah dengan hati yang bersih. Amien ya Rabbal ‘alamien.

Wassalamu ‘alaikumu warahmatullahi wabarakatuh

th kecil
Ust. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.
** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Bismillah Ayat Fatihah atau Bukan?


MuntadaQuran - Bismillah Ayat Fatihah atau Bukan?

Pertayaan :

Ustadz yg saya hormati, apakah bismillah dalam fatihah sebagian dari ayat fatihah atau bukan? soalnya banyak orang yg ngga baca bismillah dalam sholat langsung alhamdulillah sebagai ayat pertama tapi jika saya liat dalam alqur’annya sendiri fatihah adalah ayat pertama dalam qur’an?

Terimakasih – Hamba Allah

Jawaban:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du

Saudaraku Hamba Allah yang saya cintai karena Allah. Permasalahan yang anda tanyakan adalah suatu masalah yang sebenarnya harus difahami oleh setiap muslim, sehingga apabila dia mendapati sang imam atau saudaranya ketika menjadi imam shalat membaca surat al-Fatihah tanpa membaca Basmalah (bismillahirrahmanirrahim)  atau tidak menjaharkan (mengeraskan suara) bacaan basmalah, maka dia tidak akan menvonis atau mengatakan sang imam beda aliran, ajaran atau bahkan yang lebih parah beda aqidah, na’udzu billah.

Para ulama fikih sejak dahulu telah berbeda pandangan dalam menyikapi hal tersebut. Apakah basmalah satu ayat tersendiri yang ditulis setiap awal surat dalam Al-Qur’an atau dia hanya ditulis di awal surat Al-Fatihah saja?

Pertama kali yang harus kita ketahui adalah bahwa para ulama telah bersepakat bahwa basmalah adalah satu ayat yang tercantum di dalam surat Al-Naml.

Para ulama qira’ah Makkah dan Kufah menegaskan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah dan juga surat lainnya.

Namun ulama Qiraah Madinah, Bashrah dan Syam, menegaskan bahwa basmalah tidak termasuk ayat, baik pada surat Al-Fatihah maupun surat-surat lainnya, mereka mengatakan bahwa basmalah ditulis untuk mendapatkan keberkahan dan sebagai pembatas antara satu surat dengan surat lainnya.

Mereka bersandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW adalah tidak mengetahui pembatas surat hingga turunlah kepadanyabismillahirrahmanirrahim.

Basmalah di baca jahar?

Telah kami sebutkan di atas, bahwa telah terjadi perbedaan pendapat antara para ulama tentang basmalah, apakah dia termasuk ayat di setiap surat atau bukan?

Sebagaimana terjadi perbedaan tersebut, terjadi pula perbedaan pendapat mereka, apakah basmalah dibaca jahr (keras) atau sir (Pelan)

Bagi mereka yang mengatakan bahwa basmalah adalah ayat di setiap surat (selain surat Al-Taubah), mereka berbeda pendapat, apakah menjaharkan basmalah atau tidak, ada dua pendapat :

Pertama : Pendapat untuk tidak dijaharkan (dibaca pelan) ketika membaca surat Al-Fatihah. Pendapat ini didukung oleh para ulama diataranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Tausri, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Imam Ahmad bin Hambal, Al-Auza’i.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Dari Abu Hurairah, bahwasanya di shalat dan menjaharkan bacaan basmalah. Setelah selesai shalat dia pun berkata : “sesungguhnya shalatku lebih mirip dengan shalat Rasulullah SAW bila dibandingkan dengan shalat kalian”. (HR. Nasa’I dalam Sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Hakim dalam  Al-Mustadrak. Di shaihkan oleh Al-Daraquthnu, Al-Baihaqi dan lainya)

2-    Dari Ibnu Abbas, adalah Rasulullah SAW menjaharkan bacaan “bismillahirrahmanirrahim” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak, dan dia berkata : Shahih)

Kedua : Pendapat untuk menjaharkan ketika membaca Al-fatihah. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama madinah diantara Ibnu Umar, Ibnu Syihab juga di dukung oleh Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal.

Mereka bersandarkan diantaranya dengan beberapa hadits berikut :

1-    Aisyah berkata : “adalah Rasulullah SAW membuka shalatnya dengan bertakbir dan bacaan “alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” (HR. Muslim)

2-    Anas berkata : “ Aku pernah shalat (menjadi makmum) di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar,  Umar dan Utsman. Mereka memulainya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘lamin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

3-    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas berkata : “ Aku shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman. Dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillahirrahmanirrahim”.

Sebenarnya masalah ini adalah masalah ijtihadiyah bukan masalah yang qath’iyah (yang pasti kebenarannya), sebagaimana yang dikira oleh banyak orang yang tidak memiliki kedalaman masalah fikih ikhtilaf, sehingga membuat mereka sampai pada tingkat yang sangat parah sekali yaitu mengkafirkan kaum muslimin lainnya yang tidak sejalan dengan pendapat para imam madzhabnya.

Menurut hemat kami, hendaknya sebagai seorang muslim, apalagi dia seorang aktifis dakwah dan thalibul ‘ilmi, maka yang harus dikedepankan adalah sikap toleransi terhadap perbedaan yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam menjalankan ibadah yang masih bersifat furu’iyah, jangan sampai yang dikedepankan hanya ingin tampil beda dan ingin menunjukkan seakan dia lebih nyunnah dalam beribadah dan meresa lebih tahu, padahal di sana masih banyak pendapat ulama lain yang  berbeda pandangan dan memiliki dalil dan sandaran yang tidak kalah kuatnya. Kalau sikap toleransi tidak dikedepankan maka akan dapat menimbulkan keresahan dikalangan umat ini, yang tentunya ini tidak kita inginkan.

Maka hendaknya kita juga harus bersikap lebih dewasa lagi. Dan menurut kami tidak ada salahnya kalau ada  seseorang yang cenderung kepada pendapat tidak menjaharkan bacaan basmalah untuk menjaharkannya ketika dia menjadi iman shalat yang makmumnya mayoritas menjaharkan bacaan basmalah atau mungkin sebaliknya. Semoga sikap dewasa toleransi antar kaum muslimin dapat mempererat ukhuwah Islamiyah. Aamiin

Wallahu ‘alam bishshawab
 والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
th kecilUst. H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Note: * Ingin berkonsultasi silahkan arahkan crusor anda ke menu Konsultasi.
** Bila artikel ini anda anggap bermanfaat silahkan segera share agar anda juga mendapat aliran pahala yang takkan pernah henti insya Allah + jangan lupa doakan penulis untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Rohingya Belia Penghafal Quran

MuntadaQuran - Hadir di medan isu, di lapangan, sungguh berbeda. Lebih dari sekadar inspiratif. Ada pencerahan luar biasa yang diserap dengan hadir di tengah pencari suaka dari Myanmar, di Aceh. Aku bersua mereka Rabu sore, 27 Mei 2015, menjelang maghrib. Aku satu dari lima rombongan terbaru, sejak ACT terlibat dalam penanganan Muslim Rohingya yang kini berada di Aceh. Rombongan kami sampai di Posko Pengungsian warga Rohingya yang berada di Lhoksukon, Aceh Utara setelah menempuh dua jam perjalanan udara dan delapan jam perjalanan darat.

Dinyatakan bahwa jumlah pengungsi etnis Rohingya dan Bangladesh yang kini berada disitu ada ratusan orang. Sore itu suasana ramai pengunjung. Lapangan terbuka di tepi pantai Kuala Cangkoy, mulai menunjukkan pergerakan para pencari suaka itu untuk bersiap menyambut adzan Maghrib. Warga setempat masih terus mengirimkan bantuan atau sekadar beramah-tamah dengan para pengungsi. Meski agak sulit berinteraksi (karena perbedaan bahasa), saya merasakan kedekatan antara warga sekitar Kuala Cangkoy dengan para pengungsi. Benar-benar dekat tanpa sekat. 

Usai shalat Maghrib berjama'ah di Mushalla ACT, tim ACT mencoba menyelami sosok-sosok pencari suaka itu. Lewat Hussain, Muslim Rohingya yang mampu berbahasa Melayu dan sedikit Bahasa Inggris, kami bisa mengenal sedikit demi sedikit siapa mereka. Hati bergetar hebat. Wajah-wajah nelangsa, jasad-jasad kurus, anak-anak bermata sayu itu, ternyata anak-anak yang memiliki keluarbiasaan. 

Lewat Hussain, aku jadi tahu, banyak di antara anak-anak belia Rohingya yang ada di pengungsian ini, penghafal al-Quran. Salah satunya, Subiah, gadis baru berusia 7 tahun. Ia tak sendiri - sebagai hafidzah (penghafal Quran). Ada sepasang kakak-beradik yang juga hafal Quran. Benar jasad mereka ringkih, dan dalam usia sebelia itu, bersama berpuluh anak yang baru belasan tahun, harus mengarungi ganasnya samudera dan kejamnya perahu. Banyak yang sendiri atau bersama saudaranya yang juga kanak-kanak atau remaja, tanpa orangtua atau sanak saudara. 

Ya, "anak-anak surgawi" ini terpaksa terpisah dari orangtuanya. Ada yang memang sudah tak punya orangtua, ibu atau ayah, bahkan ayah-ibunya tewas mengenaskan akibat kekerasan di tanah kelahirannya, Myanmar. Yang di Kuala Cangkoy ini sebagian terpisah kapal dengan orangtuanya. Mereka dengar, sang ayah ada di kapal yang mendarat di Malaysia, sementara mereka terdampar atau diselamatkan nelayan dan kini berada di Aceh. 

Luar biasa, kenyataan sepahit ini harus ditanggung anak-anak belasan tahun seperti mereka. Saat kami temui, mereka mulai bisa menenangkan diri. Kondisi mereka dalam keadaan baik. Fisik mereka terlihat sehat, bahkan mereka mampu 'melayani' kami dengan senyuman hangat. Alunan al Qur’an yang kian sering dibacakan di pengungsian, berkat sumbangan kitab Al Quran dari banyak pihak, menepis sepi dan galau. Mereka tenang karena keyakinan pertolongan Allah. 

Aku malu, dalam kondisi tertekan, banyak penghafal Quran usia belia di tengah Muslim Rohingya, sementara aku yang hidup di negeri aman-damai seperti Indonesia, belum banyak ayat dan surat yang ku hafal. Sampai kami berpisah, masih lekat senyuman mereka, memancarkan rasa syukur bersua orang-orang baik. Senyum mereka seakan mengajariku yang sudah puluhan tahun dalam kondisi aman-aman saja, untuk lebih tawakal menjalani hidup dan lebih banyak bersyukur dengan amal saleh. Cobaanku, tak ada secuil pun dibanding derita mereka, anak-anak belia Rohingya. Dan mereka, masih bisa menghafal al Quran. (act/th/mq)

Oleh: Ahmad Faisal Ramadhan
           Integrated Digital Communication Officer